Teori Big-bang Dalam Al-Quran - Muslim Prime
Headlines News :
Home » » Teori Big-bang Dalam Al-Quran

Teori Big-bang Dalam Al-Quran

Written By Alonza Publishing on Kamis, 21 Februari 2013 | 17.50

Sengaja kita tampilkan disini yang membicarakan asal-usul hdup manusia bumi berdasarkan teori evolusi sebagai hasil capaian penyelidikan orang-orang barat pada mana dapat dilihat adanya faham materialisme yang menyatakan alam semesta telah terwujud sendirinya, menurut proses alamiah, tanpa penciptaan dan rencana tertentu oleh Yang Mahakuasa untuk kehidupan manusia.

Teori evolusi ini hampir-hampir meliputi seluruh masyarakat manusia bumi hingga sempat menyusup kedalam sekolah-sekolah yang mengajarkan agama Islam di mana faham materialisme harusnya sangat ditentang. Sampai-sampai kebanyakan anggota masyarakat dalam menanggapi sesuatu yang bersifat alamiah selalu didasarkan atas pandangan sarjana barat naturalisme. Mereka cenderung memperkirakan bahwa semua yang dikemukakan sarjana barat sebagai hal praktis dan benar berlaku. Bahwa mengenai keterangan yang menyangkut dengan bidang astronomi, pada pokoknya teori gravitasi “Newton dan Relativity Einstein memegang peranan penting, sementara yang sehubungan dengan biologi dan histori, maka teori evolusi Darwin bertindak selaku pedoman.

Edwin Hubble yang diberi nama julukan dengan Cosmic Pioneer dari California pada tahun 1949 telah memakai teleskop berukuran 100 inci dengan mana dia mendapat kesimpulan bahwa semua bimasakti di angkasa luas sedang bergerak ke segala arah tanpa kembali lalu dikatakannya semesta raya itu semakin meluas, expanding, dimulai oleh suatu benda atau ataom raksasa , karenanya keadaan daerah ledakan itu, kini berupa angkasa hampa tanpa bintang.

Albert Einstein (1879-1955) yang dijuluki dengan Master of Cosmolog, dengan teori Relativitynya dinyatakan memperbaiki teori gravitasi Newton baik dalam bidang mikrokosmos, maupun dalam bidang makrokosmos. Dia sependapat dengan Hubble tentang Big Bang teori yang menyatakan semua bimasakti (galaksi) yang masing-masingnya terdiri dari jutaan bintang, semuanya bergerak melengkung 360 derajat, hingga semesta raya tidak meluas dan akhirnya bimasakti-bimasakti itu kembali pada titik ledakan bermula. Karenanya dikatakan oleh sarjana itu keadaan semesta dalam statik.

Tetapi kedua orang ini sepakat dalam pendapat bahwa setiap bintang senantiasa membuang energinya ke angkasa luar berbentuk partikel-partikel atom yang kemudian, disebabkan tarikan graviatsi masing-msingnya, berkumpul kembali lalu menciut, mengerut, hingga akhirnya membentuk bintang baru dengan planet-planet yang mengitari. Seterusnya dalam berjuta tahun, bintang baru terbentuk ini meledak pula lalu mengambang di angkasa luas untuk membentuk bintang baru kembali, dan seterusnya berulang kali. Karenanya, dengan keadaaan demikian, Terdapatlah bintang yang baru lahir, yang sudah dewasa, dan yang sedang menghilang.

Padahal penganut teori Bing Bang tidak akan sanggup menerangkan :

a. Dimana tempat atau daerah ledakan bermula dari atom raksasa itu, tentunya kini berupa daerah angakasa yang kosong hampa.

b. Kenapa ada bimasakti-bimasakti yang tampaknya semakin mendekat, dan ada pula yang sedang menjauh antara sesamanya?

c. Apa yang menyebabkan semua pecahan ledakan demikian berbentuk globe-globe bulat sempurna menjadi bintang-bintang, planet-planet , dan bulan-bulan? Sedangkan meteoritis dan asteroids yang puluhan ribu ribuan jumlahnya sebagai pecahan planet antara mars dan jupiter, semuanya berbentuk tidak teratur, tiada satupun di antaranya yang bulat sempurna.

d. Apa yang menyebabkan bintang-bintang senantiasa bergolak dengan api nyala, sementara planet-planet dan bulan-bulan sudah lama mendingin?

e. Apa yang menyebabkan bulan-bulan tidak berputar di sumbunya sewaktu beredar keliling planet? Padahal planet itu sendiri berotasi sewaktu mengitari bintang yang juga berputar disumbunya.

f. Apa yang menyebabkan bulan-bulan mengelilingi planet? Kenapa bulan-bulan itu tidak langsung mengorbit bintang atau surya?

Kiranya teori relativity Einstein ini wajar mendapat tanggapan negatif dari kalangan Kristen sendiri seperti yang dimuat pada Reader’s Digest bulan Juni 1969 dengan judul “What the Bible says to me” yang telah kita kutipkan pada pasal terdahulu.

Sementara itu Werner Heisenberg dari Munich University, pada tahun 1925 telah merumuskan suatu teori baru tentang quantum Mekanik. Sistem ini menerangkan bentuk atom melalui suatu formula yang didasarkan atas frekuensi dan intensitas dari garis-garis spektrum yang dapat dilihat dan diukur. Heisenberg menantang konsep planetary electrons dari Roherford dan Bohr, juga menyatakan bahwa teori Newton tentang astronomi tidaklah berlaku pada fisika atom. Dia memperagakan bahwa tidaklah mungkin untuk memperinci dengan ketepatan sempurna pada waktu yang sama tentang keduanya yaitu posisi dan velocity dari suatu partikel atom tertentu. Sehubungan dengan teori baru ini yang mengubah keseluruhan pengetahuan fisika, maka Sir Arthur Stanley Eddington (1882-1944) seorang Orifessir astronomy di Cambridge menamakan teori Heisenberg tersebut dengan The Priciple of Uncertainty, atau prinsip tentang ketidaktentuan.

Selanjutnya perhatikanlah pula perkembangan baru yang berlaku pada tahun 1974 dalam bidang fisika dan astronomi, yaitu pendapat Dr. Berhrem Kursunoglu, Direktur Pusat Theoritical Studies pada University Miami USA yang menerangkan bahwa semesta raya bukanlah bermula dari ledakan atom raksasa tetapi dengan partikel-partikel yang sangat kecil. Teori baru ini dikemukakannya dengan bukti-bukti tersusun komplit, cukup menantang teori Einstein. Kemudian itu para ahli di Johnson space Centre Houston. Texas, dan tempat-tempat lain bersama-sama mempelajari teori baru itu untuk mengambil sikap menerima atau menolaknya.


Perincian teori Dr. Berhram ini ialah sebagai berikut :


1. Penciptaan semesta raya bukanlah dimulai dengan ledakan atom raksasa, tetapi dengan partikel-partikel yang berproses.

2. Bahwa suatu partikel berantukan dengan lainnya yang berbentuk antipartikel. Hal ini menimbulkan reaksi berantai membentuk zat-zat yang keluar dari lapangan energi.

3. Kedua macam partikel itu dinamakannya “mikro Black Holes” (ruang-ruang kecil yang belum disadarai secara pasti).

4. Einstein menyatakan bahwa partikel pokok adalah noktah-noktah tanpa susunan, tetapi Behram mengatakan partikel-partikel itu terbikin dari lapisan tak terbatas dari pergantian aliran positif.

5. Mikro black holes itu terwujud oleh tenaga ghaib sekira 10.000 juta tahun yang lalu.

6. Semesta raya praktis memiliki perioda permulaan dan perioda akhir (bahwa semua partikel itu nanti akan kehabisan energi).

Dari teori Dr. Behram diatas ini dapat dilihat adanya data-data yang hampir membenarkan keterangan Alquran bahwa semesta raya dimulai dengan penciptaan partikel-partikel yang membentuk atom hydorgen oleh ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala. Atom itu dikenal dalam bidang fisika sebagai atom asal bagi seluruh benda konkrit. Hydrogen memperganda dirinya dengan ketentuan ALLAH membentuk berbagai elemen lain yang kemudian berkumpul menjadi molekul-molekul benda angkasa, begitupun semua yang dapat dicapai pancaindera. Jadi bukanlah semesta raya itu dimulai dari ledakan atom raksasa dimana noktah-noktah tanpa susunan menurut Big Bang Theory.

Alquran pada ayat 79/31 dan 87/4 menerangkan bahwa dari semua benda angkasa itu keluar suatu yang dinamakan dengan Mar’a, tidak mengandung aliran listrik. Hydrogen selaku atom asal memang terdiri dari dua unsur yaitu Almaa dan Mar’a yang oleh sarjana barat dinamakan dengan Proton dan Elektron. Kedua unsur ini tidak mungkin dilihat dengan memakai teropong manapun karena terlalu halus sekali, maka ukuran, bentuk, dan aktivitas dari kedua unsur itu hanyalah didasarkan orang atas dugaan dari gejala yang berlaku.
Sarjana barat masih memisahkan nama antara Mar’a yang masih menyelubungi Proton dari nama Mar’a yang telah mengapung ke angkasa bebas. Dalam hal ini termasuk Dr.Behram sendiri. Mereka menamakan yang menyelubungi proton dan elektron bermagnet negatif dan dengan nama positron pada yang bermagnet positif. Kemudian di waktu atom-atom melakukan fusi atau fissi yang disebut dengan kejadian proton-proton Reaksi dan Carbon Cycle, maka tercampaklah sejumlah elektron dan positron. Kedua wujud ini langsung menjadi satu yang dinamakan dengan meson atua neutrino, ataupun dengan tachion. Wujud ini jadi netral tanpa aliran listrik, mengapung keangkasa bebas, keluar dari seluruh lapangan energi dan tak mungkin ditahan lagi. Para sarjana barat menganggap neutrino atau meson itu hilang lenyap tanpa arti sama sekali. Tetapi Alquran menerangkan bahwa wujud itu langsung membentuk lapisan ionosfir yang semakin tebal melingkupi planet untuk kehidupan yang lebih sempurna, sementara yang keluar dari bintang-bintang, semuanya mengapung membentuk nebula yang akhirnya bergabung jadi Comet.


Tentu saja yang dimaksud dengan micro balck holes oleh Dr. Berhram adalah almaa dan mar’a tadi atau yang disebut dengan proton dan neutrino diatas, karena wujud itu memang tidak pernah dapat dilihat, bukan saja karena kecilnya tetapi juga sebab wujud itu bukanlah suatu benda yang pasir halus menurut keadaan sehari-hari, tetapi kekosongan total tanpa isi sama sekali kecuali Rawasia atau batang magnet yang berputar disumbunya, membujur dari utara ke selatan wujud itu. Sepintas lalu, benarlah pendapat Pluto (427-347BC) ribuan tahun yang lalu, bahwa semua benda alam ini tersusun dari kekosongan total dan hanya pancaindera saja yang mengiranya berbentuk dan berwarna.


Micro black holes atau proton dan elektron yang oleh Dr. Behram dikatakan dicipta oleh tenaga ghaib, sebenarnya ialah ciptaan ALLAH Yang Maha Esa, bagaimana cara DIA menciptakan wujud pertama itu tidak mungkin dipelajari manusia karena untuk melihat proton dan elektron itu saja orang tidak berkesanggupan. Memang sangat sedikit pengetahuan manusia kini tentang wujud alam di sekitarnya bahkan tentang benda-benda yang ada dalam dirinya sendiri. Dengan itu, untuk pertama kalinya para sarjana di barat mengakui secara ilmiah bahwa semua yang ada kini dimulai dengan ketentuan dan kekuasaan tenaga ghaib pada mana sarjana tak berdaya apa-apa.


Dr. Behram menyatakan semesta raya memiliki masa permulaan begitupun masa akhir dengan arti: bermula dari kehampaan dan akan berakhir dengan kehampaan. Tampaknya tidak begitu berbeda dari teori yang dikemukakan oleh Hubble dan Einstein, bahwa dunia kini hanyalah tempat hidup dan mati, kemudiannya menghilang tanpa resiko dan tanpa persoalan. Akhirnya kita ketahuilah pula bahwa pendapat Dr. Behram ini hendak mempertemukan teori evolusi dengan kepercayaan Hindu tentang hidup. Kalau ditinjau dari ajaran Islam bersumberkan Alquran, akan kita sadarilah bahw semua teori tadi tidak rasional. Islam mengajarkan bahwa hidup kini diciptakan ALLAH untuk menguji manusia tentang iman, ilmu dan amal.


Hidup kini pasti diakhiri dengan kematian, kemudian ALLAH menghidupkan semua makhluk berjiwa untuk kedua kalinya waktu mana setiap manusia diberi balasan sebanding dengan nilai usahanya pada kehidupan didunia kini. Kehidupan kedua itu berlaku di akhirat yaitu pada hari kiamat dimana setiap diri akan hidup terus tanpa kematian lagi. Mereka terbagi menjadi penduduk surga-surga dengan nikmat dan kebahagiaan besar, dan penduduk neraka dengan penyesalan dan nista siksaan yang tak pernah berakhir, maka ALLAH menyatakan semesta itu telah berlangsung dengan permulaan dan dia akan berlangsung terus tanpa akhir. Kalau kehidupan kini berwujud konkrit ditempat yang konkrit, maka sesudah matinya didunia kini, manusia akan dihidupkan kembali dalam keadaan konkrit dan juga di tempat yang konkrit dipermukaan planet-planet.

Alquran tidak memberikan data tertentu tentang lamanya sejarah semesta telah berlangsung, tetapi menyatakan bahwa kehidupan di dunia kini terbagi dua yaitu masa sebelum tofan besar dizaman Nabi Nuh dan masa sesudahnya. Manusia pertama dulu lebih banyak jumlahnya, lebih banyak meninggalkan bekas dipermukaan planet-planet , dan lebih tinggi peradabannya bahkan dinyatakan lebih dari 10 kali yang dicapai oleh manusia kini. Hal demikian dapat difahami dari maksud ayat suci antara lain ayat 6/6, 28/58, 30/9, 40/82, 34/45, dan 71/25.

Tidak diterangkan umur dunia dalam Alquran, bukanlah berupa kekurangan dan tidak sempurnanya ajaran Islam, tetapi sebaliknya menjadi tenaga dorong yang direncanakan ALLAH bagi penganutnya bahkan bagi para sarjana umumnya untuk melakukan penyelidikan lebih teliti. Sementara itu Alquran memberikan petunjuk tentang banyaknya bekas dan bukti yang bertebaran dipermukaan planet-planet dengan mana akan ditemukan keterangan-keterangan positif mengenai keadaan pertama dulunya. Hal ini secara tegas dinyatakan ALLAH ayat 3/190, 29/20 dan ayat suci lain yang nanti akan dibukakan ALLAH penjelasannya pada waktu-waktu tertentu.

Dari hasil penyelidikan missi Apollo ke permukaan bulan, para sarjana barat memperkirakan umur semesta raya telah berlangsung selama 4.500 juta tahun, dan sebelum itu Einstein telah menduga 5.000 juta tahun dan tatasurya kita akan habis berakhir sesudah masa 5.000 juta tahun lagi. Sementara itu Dr. Behram memperkirakan umur dunia telah berlangsung selama 11.000 juta tahun, dan Dr. Allan Sandage pada tahun 1960 memperkirakan umur semesta telah berlaku semenjak 20.000.000 juta tahun sebagai usia yang paling tinggi, dimuatkan dalam supplement Encyclopedia Americana no. 41/67-866 berjudul Theories of Unverse.

Yang menjadi pertanyaan ialah betapa dan bagaimana para sarjana itu telah sampai memperkirakan umur semesta demikian, padahal yang mereka ketahui barulah sedikit sekali tentang bumi dan bulan, yaitu dua benda angkasa yang sangat kecil ukurannya dibanding dengan jutaan benda angkasa lain. Kalau orang dapat menimbang berat dengan dasar ukuran kilogram, dan mengetahui ukuran panjang dengan meter, tetapi dengan apa dan bagaimana mereka dapat mengukur umur semesta kecuali berdasarkan dugaan dan perkiraan semata. 


Sumber 
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Muslim Prime - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger